Hari Kamis lalu (20/12), dosen Universitas Ibrahimy berkesempatan mengikuti loka karya penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan yang bertempat di aula fakultas ilmu kesehatan itu dihadiri 120 lebih dosen Universitas Ibrahimy. Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) selaku penyelenggara telah sukses mengundang Dr. H. Suwendi, M.Ag. selaku Kepala Subdirektorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Diktis. Kemenag. RI. Sebagai narasumber pada workshop tersebut.

Ketua LP2M Universitas Ibrahimy mengharapkan setelah acara ini, para dosen bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Sebelum pembicara utama menyampaikan materi, ketua Badan Penjamin Mutu (BPM) UNIB terlebih dahulu memaparkan teknis untuk mendapatkan akun sebagai peneliti di kementerian agama. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan partisipasi dosen dalam penelitian, khususnya dosen yang telah memiliki NIDN.
Dalam penyampaiannya, Dr. Suwendi menegaskan bahwa perguruan tinggi diharapkan dapat mereproduksi ilmu. Cara mereproduksi ilmu tersebut hanya dapat tercapai dengan meningkatkan penelitian oleh para dosen. Ia melanjutkan, “ Perbedaan Dosen dan guru ialah bahwa dosen merupakan pengajar yang melakukan penelitian. Jika dosen tidak melakukan penelitian maka tidak ada bedanya dengan guru biasa”.
Pria kelahiran Indramayu tersebut menyatakan bahwa kurangnya komitmen para dosen untuk meneliti menjadi masalah utama di lingkungan perguruan tinggi, bukan permasalahan biaya. Oleh karena itu, pihak Kemenag. siap memberi dana penelitian jika proposal yang diajukan qualified. Untuk meningkatkan kualitas proposal agar bisa direkomendasikan reviewer, peneliti perlu dibekali pelatihan metodologi riset.
Walhasil, pria 42 tahun tersebut menambahkan, “Penelitian, Publikasi dan Pengabdian memiliki dampak besar bagi pengembangan perguruan tinggi”. Menurutnya, perguruan tinggi yang tidak melakukan riset dianggap kurang memiliki nuansa akademis. Terakhir, ia menegaskan bahwa penelitian dan publikasi juga berdampak besar bagi dosen yang ingin menjadi guru besar. Ia mengandaikan, “ dalam setiap bidang studi harus memiliki guru besar. Jika tidak maka andaikan pesantren yang tidak memiliki Kiai”. (Rizki H./LP2M)